Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat Datang di Web Sederhana, Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Jumat, 29 Januari 2016

PROFIL PRIBADI MUSLIM




Al-Qur'an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah Saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur'an dan sunnah adalah pribadi yang shaleh, pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt.
Persepsi masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus lekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.
Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada pribadi muslim.
1. Salimul Aqidah
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam' (QS 6:162).
Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da'wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.
2. Shahihul Ibadah.
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: 'shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.' Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq. Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.
Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur'an, Allah berfirman yang artinya: 'Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung' (QS 68:4).
4. Qowiyyul Jismi. Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: 'Mu'min yang kuat lebih aku cintai daripada mu'min yang lemah' (HR. Muslim).
5. Mutsaqqoful Fikri
Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur'an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: 'pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.' Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: 'Yang lebih dari keperluan.' Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).
6. Mujahadatul Linafsihi.
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu.

Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).
7. Harishun Ala Waqtihi.
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.

Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: 'Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.' Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syuunihi.
Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur'an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.
9. Qodirun Alal Kasbi.
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Kareitu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur'an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

10. Nafi'un Lighoirihi.
Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.

Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).


Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing

Kamis, 28 Januari 2016

PROFIL PRIBADI MUSLIM


Al-Qur'an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah Saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur'an dan sunnah adalah pribadi yang shaleh, pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt.
Persepsi masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus lekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.
Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada pribadi muslim.
1. Salimul Aqidah
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam' (QS 6:162).
Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da'wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.
2. Shahihul Ibadah.
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: 'shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.' Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq. Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.
Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur'an, Allah berfirman yang artinya: 'Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung' (QS 68:4).
4. Qowiyyul Jismi. Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: 'Mu'min yang kuat lebih aku cintai daripada mu'min yang lemah' (HR. Muslim).
5. Mutsaqqoful Fikri
Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur'an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: 'pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.' Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: 'Yang lebih dari keperluan.' Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).
6. Mujahadatul Linafsihi.
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu.

Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).
7. Harishun Ala Waqtihi.
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.

Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: 'Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.' Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syuunihi.
Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur'an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.
9. Qodirun Alal Kasbi.
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Kareitu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur'an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

10. Nafi'un Lighoirihi.
Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.

Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).


Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.

Tongkat Pramuka, Ukuran, Warna, dan Penggunaan



Tongkat Pramuka, Ukuran, Warna, dan Penggunaan - Tongkat pramuka menjadi sebuah kelengkapan bagi anggota Gerakan Pramuka, terutama Pramuka Penggalang. dalam setiap kegiatannya. Tongkat Pramuka ini memiliki ketentuan tersendiri terkait dengan ukuran tongkat, warna tongkat, bahan, dan penggunaan, baik cara penggunaan tongkat saat baris-berbaris maupun di luar PBB.


Bahan, Ukuran, dan Warna Tongkat Pramuka

Tongkat pramuka dibuat dari bahan bambu atau kayu yang dibuat silinder. Ukuran panjang tongkat pramuka adalah 160 cm (1,6 meter) dengan diameter sekitar 5 cm. Tongkat diberikan warna bebas sesuai dengan aspirasi, keinginan, dan kreatifitas masing-masing. Jika semua anggota satu regu membawa tongkat, warna tongkat diusahakan seragam untuk menunjukkan kekompakan regu.

Sering kali dijumpai tongkat pramuka yang diwarnai menjadi tiga bagian, yaitu merah di kedua ujungnya dan putih di bagian tengahnya. Bagian ujung yang berwarna merah berukuran masing-masing 30 cm, sedangkan bagian tengah yang berwarna putih berukuran 100 cm. Aturan pewarnaan tongkat tersebut tidak salah namun juga tidak wajib. Karena sekali lagi, masing-masing regu bebas untuk mewarnai tongkatnya sesuai dengan kreatifitasnya.

Penggalang dengan tongkat pramuka
Pramuka Penggalang dengan tongkat pramuka

Penggunaan Tongkat Pramuka

Tongkat pramuka adalah peralatan serba guna bagi pramuka, sehingga wajar jka dianggap sebagai senjatanya pramuka. Bagi pramuka siaga, tongkat bisa hanya dibawa oleh Pimpinan Barung saja untuk melekatkan bendera barung. Bagi Pramuka Penggalang, selain pemimpin regu (untuk melekatkan bendera regu), tongkat pramuka biasa dibawa oleh setiap anggota regu dan digunakan dalam setiap kegiatan, meskipun tidak wajib.

Sebagai alat serba guna, tongkat pramuka memiliki berbagai manfaat dan kegunaan. Penggunaan tongkat pramuka tersebut antara lain untuk :

Tiang tenda
Pembuatan pionering, mulai dari pionering gapura, tiang bendera, rak sepatu, jemuran pakaian, dan lain sebagainya.
Pembuatan tandu darurat (dragbar)
Alat pertahanan diri, termasuk terhadap hewan liar
Alat bantu menaksir tinggi, menaksir jarak, dan lain sebagainya.
Alat bantu pengepakan barang (membawa, mengangkut, dan memindahkan barang)
Baris Berbaris (Baca : Cara Menggunakan Tongkat Dalam Baris Berbaris)

Mengingat pentingnya kegunaan tongkat pramuka perlu diperhtaikan dalam pemilihan bahan tongkat yang harus mempertingbangkan kekuatan dan ukuran tongkat. Jika diperlukan, dapat ditambahkan tanda-tanda pada tongkat yang menunjukkan ukuran-ukuran tertentu. Semisal panjang 1 meter, 30 cm, dll.
Yang tidak kalah pentingnya adalah perawatan tongkat. Dengan perawatan dan penyimpanan yang benar, akan menjaga kualitas tongkat. Sehingga saat sewaktu-waktu tongkat dibutuhkan untuk membuat sesuatu (semisal tandu darurat) dapat berfungsi dengan baik

Demikian perincian tentang tongkat pramuka. Salam Pramuka

Selasa, 26 Januari 2016

Larangan Pacaran Dalam Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist


Larangan Pacaran Dalam Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist



“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra [17] : 32).

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. An Nur : 30)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur : 31)

Dari Ibnu Abbas r.a. dikatakan: Tidak ada yang kuperhitungkan lebih menjelaskan tentang dosa-dosa kecil daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya mata adalah melihat [dengan syahwat], zinanya lidah adalah mengucapkan [dengan syahwat], zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [pemenuhan nafsu syahwat], maka farji (kemaluan) yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya.”(HR. Bukhori dan Muslim)
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan.” (HR. Ahmad).

“Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HASAN, Thabrani dalam Mu'jam Kabir 20/174/386)

“Demi Allah, tangan Rasulullah shallallahu‘alaihi wassallam tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun dalam keadaan membai’at. Beliau tidak memba’iat mereka kecuali dengan mangatakan: “Saya ba’iat kalian.” (HR. Bukhori)

“Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” (HR. Malik , Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)
Telah berkata Aisyah ra, “Demi Allah, sekali-kali dia (Rasul) tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram) melainkan dia hanya membai’atnya (mengambil janji) dengan perkataaan.” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah)

“Wahai Ali, janganlah engkau meneruskan pandangan haram (yang tidak sengaja) dengan pandangan yang lain. Karena pandangan yang pertama mubah untukmu. Namun yang kedua adalah haram” (HR. Abu Dawud , At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani)

“Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barangsiapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari? Kiamat.” (HR. Ahmad)

Dari Jarir bin Abdullah r.a. dikatakan: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang memandang [lawan-jenis] yang [membangkitkan syahwat] tanpa disengaja. Lalu beliau memerintahkan aku mengalihkan pandanganku.” (HR. Muslim)

Begitu banyak kan larangan tentang Pacaran? Jadi masih berani Pacaran? [globalmuslim/www.al-khilafah.org]
[www.bringislam.web.id]

Sejarah Muhammadiyah


 
 Masjid Bersejarah
PROLOG

Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan .
Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.
 
Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke luar kampung Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan ke luar pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini Muhammadiyah telah ada diseluruh pelosok tanah air.
 
Disamping memberikan pelajaran/pengetahuannya kepada laki-laki, beliau juga memberi pelajaran kepada kaum Ibu muda dalam forum pengajian yang disebut "Sidratul Muntaha". Pada siang hari pelajaran untuk anak-anak laki-laki dan perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang telah dewasa.
KH A Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922 dimana saat itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan. Pada rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934.Rapat Tahunan itu sendiri kemudian berubah menjadi Konggres Tahunan pada tahun 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini Menjadi Muktamar 5 tahunan.

APA SIH NU (NAHDLATUL'ULAMA)


Apa itu NU

…………………" NU "……………….
Orang Indonesia Bertanya : Apa sih NU itu……...…….?
Orang Madura Bertanya : Saungkunah NU jiyeh aparah kah……?
Orang Sunda Bertanya : Ari NU teh Naon……?
Orang Sudan Bertanya : ماهي نهضة العلماء.....؟
Orang Inggris Bertanya : What is NU…?
Orang Betawi Bertanya : NU Itu Ape Sih……….?
Orang Jawa Bertanya : Opo sih NU iku…………?
(Rangkuman singkat " Muhammad Shohib Rifa'i " untuk mengenal NU di era Moderen dan sebagai benteng warga NU agar tidak mudah dirayu oleh Kelompok/Aliran/Partai politik yang tidak sejalan dengan NU) 

MUQADDIMAH
Tidak terasa sudah 85 tahun umur Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial keagamaaan (jam‘iyah diniyah ijtima‘iyah) berdiri. Tidak dipungkiri pula jika organisasi yang didirikan KH Hasyim Asy’ari (Rois Akbar NU) pada tanggal 31 Januari 1926 itu telah memberi warna kehidupan negera Indonesia dan tidak dipungkiri juga bahwa PCI-NU SUDAN dalam perannya ikut membantu KBRI Khartoum Sudan, Ini bisa dilihat dari kegiatan dan program PCI-NU SUDAN. Umur 85 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Berbagai dinamika mewarnai perjalanan NU selama kurun waktu itu.
Maka dari itu kita harus tau lebih dalam sejarah NU, sehinggah kita faham perjuangan NU dari masa ke masa. Lebih dari itu kita harus faham tentang NU dan bisa memahamkan kepada sekeliling kita tentang NU itu sendiri. Dan kita harus bisa membedakan antara ORMAS (Organisasi Kemasyarakatan), PARPOL (Partai Politik), Organisasi Kemahasiswaan dan Organisasi Kekeluargaan. dengan merayakan Harla NU ke-85 ini, kita semakin CINTA kepada NU dan bisa merasakan pentingnya berorganisasi. Melalui tulisan ini penulis mencoba untuk mengurai perjalanan NU hingga konteks kekinian.

1. APA SIH NU ITU………..?
- NU adalah Singkatan dari Nahdlatul Ulama.
- NU adalah organisasi keagamaan sekaligus organisasi kemasyarakatan terbesar dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia, mempunyai makna penting dan ikut menentukan perjalanan sejarah bangsa Indonesia, NU lahir dan berkembang dengan corak dan kulturnya sendiri. Sebagai organisasi berwatak keagamaan Ahlussunnah Wal Jama'ah, maka NU menampilkan sikap akomodatif terhadap berbagai madzhab keagamaan yang ada di sekitarnya. NU tidak pernah berfikir menyatukan apalagi menghilangkan mazdhab-mazdhab keagamaan yang ada. Dan sebagai organisasi kemasyarakatan, NU menampilkan sikap toleransi terhadap nilai-nilai lokal. NU berakulturasi dan berinteraksi positif dengan tradisi dan budaya masyarakat lokal. Dengan demikian NU memiliki wawasan multikultural, dalam arti kebijakan sosialnya bukan melindungi tradisi atau budaya setempat, tetapi mengakui manifestasi tradisi dan budaya setempat yang memiliki hak hidup di Republik Indonesia tercinta ini. Sikap ini sesuai dengan inti faham keislaman NU yang sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW : Al-hikmatu dlaallatul mu'min, fahaitsu wajadaha fahuwa ahaqqu biha. Hikmah atau nilai-nilai positif untuk umat Islam, darimanapun asalnya ambillah karena itu miliknya umat Islam. Proses akulturasi tersebut telah menampilkan wajah Islam yang berkeindonesiaan, wajah yang ramah terhadap nilai budaya lokal dan terbuka dengan nilai-nilai universal yang positif. NU juga menghargai perbedaan agama, tradisi, dan kepercayaan, yang merupakan yang merupakan warisan budaya Nusantara. Sikap yang demikian inilah yang memudahkan NU diterima di semua lapisan masyarakat di seluruh kepulauan Nusantara. (Lihat di buku hasil-hasil muktamar NU, Pidato Rais Aam PBNU KH. A.M. Sahal Mahfudz Pada Pembukan Muktamar ke-32).
- Dalam faham keagamaan, NU menganut Ahlussunnah Waljama'ah, sebuah pola nalar dalam Islam yang merujuk kepada al-qr'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, serta Sunnah al-khulafa' ar-Rasyidun. Cara berfikir semacam itu dirujuk dari Ulama terdahulu, seperti Abu Hasan Al- Asyari dan Abu Mansur Al-maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fiqih mengikuti empat madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi'I, dan Hambali. Sementara dalam bidang tasawuf, NU mengembangkan metode Al-Ghozali dan Junaidi Al- Bagdadi, yang menginterasikan antara tasawuf dengan syariat.
- Dalam bermasyarakat, NU mempunyai empat sikap kemasyarakatan, yang pertama: Tawasuth dan I'tidal. Tawasuth, yaitu sikap moderat yang berpijak pada prinsip menempatkan diri di tengah-tengah antara dua ujung tatharruf (ekstremisme) dalam berbagai masalah dan keadaan, untuk mencapai kebenaran serta keterlanjuran ke kiri atau ke kanan secara berlebihan. I'tidal berarti tegak lurus, berlaku adil, tidak berpihak kecuali kepada yang benar dan yang harus dibela. Kedua: Tasamuh, yaitu sikap toleran yang berintikan penghargaan terhadap perbedaan pandangan dan kemajemukan identitas budaya masyarakat. Ketiga: Tawazun, sikap seimbang dalam berkhidmat demi terciptanya keserasian hubungan antara manusia dengan Allah SWT. Keempat: Amar ma'ruf nahi munkar, yaitu dua sendi yang mutlak diperlukan untuk menopang tata kehidupan yang diridloi Allah. Amar ma'ruf artinya mengajak dan mendorong perbuatan baik, baik yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi dan ukhrowi. Sedangkan nahi munkar artinya menolak dan mencegah segala hal yang dapat merugikan, merusak, merendahkan dan menjerumuskan nilai-nilai kehidupan. Hanya dengan melaksanakan dua gerakan ini (amar ma'ruf dan nahi munkar) kehidupan lahiriyah dan batiniyah kita mencapai kebahagiaan.

2. TUJUAN DIDIRIKANNYA ORGANISASI NU (NAHDLATUL ULAMA).
- Nahdlatul Ulama bertujuan menegakkan ajaran Islam menurut faham Ahlussunnah Waljamaa'h dan menganut salah satu dari empat madzhab empat di tengah-tengah kehidupan mesyarakat, di bawah wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3. NU (NAHDLATUL ULAMA) SEBELUM MENJADI ORGANISASI.
- Awal kelahiran organisasi kaum pesantren yang dibidani oleh KH Wahab Hasbullah yang mana oraganisasi ini sebagai jam'iyah diniyah ijtima'iyah yang diawali dengan munculnya beragam organisasi kemasyarakan. dalam hal ini Nahdlatul Ulama terbentuk dari tiang penyangga mulai dari awal yaitu Nahdlatul Wathan, Nahdlatul Tujjar, dan Tashwirul Afkar.
- Awal berdirinya Nahdlatul Wathan ini yaitu pada tahun 1916 yang mana berdirianya Nahdlatul wathan ini sebagai modal awal dalam mengorganisasikan kelompok Ahlussunnah Waljamaah dalam agendanya yaitu politik kebangsaan.
- Kemudian pada tahun 1918 KH. Wahab Hasbullah memprakarsai akan adanya sebuah organisasi baru yang bergerak pada sektor ekonomi dengna didirikan sebuah koperasi dagang atau koperasi pedagang dengan dikenal namanya Nahdlatul Tujjar.
- Disamping kedua organisasi ini beliau KH Wahab Hasbullah bersama-sama dengan KH. Ahmad Dahlan seorang Ulama terkenal dari daerah Kebondalem Surabaya dan juga bersama Kyai Mas Mansur mendirikan sebuah Organisasi yang pada dasarnya masih mengedepankan akan pentingnya sebuah pendidikan yang mana dikemas dengan sedemikian rupa dengan perpaduan model pendidikan Klasikal akan tetapi pada awalnya organisasi ini adalah sebagai Forum curah pendapat serta transaksi gagasan, baik menyangkut persoalan keagamaan, kebangsaan, dan perkembangan Internasional. yang dinamakan dengan Tashwirul Afkar.
- Dari ketiga organisasi inilah berdiri sebuah Organisasi Sosial keagamaan yang dinamakan Nahdlatul Ulama. sebuah Organisasi dengan warga terbesar pertama dinegeri ini dengan deklarasi awalnya jam'iyyah diniyyah ijtima'iyah dan juga organisasi sosial keagamaan.
- Lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Jam’iyah dilatarbelakangi oleh dua faktor dominan. Pertama, munculnya kekhawatiran terhadap fenomena gerakan Islam modernis yang bertendensi mengikis identitas kultural dan paham keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang telah hidup dan dipertahankan selama ratusan tahun. Kedua, sebagai respons terhadap pertarungan ideologis yang terjadi di dunia Islam pasca penghapusan kekhalifahan Turki Utsmani, munculnya gerakan Pan-Islamisme yang dipelopori oleh Jamaluddin AlAfghani dan gerakan Wahabi di Hijaz.

4. NU (NAHDLATUL ULAMA) MENJADI ORGANISASI SOSIAL KEAGAMAN DAN KEMASYARAKATAN SEMENJAK DIDIRIKAN SAMPAI SEKARANG.
- NU (Nahdlatul Ulama) Berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 M / 16 Rajab 1344 H di Kota Surabaya - Jawa Timur - Indonesia, yang sampai sekarang NU mempunyai Gedung Pusat di Jakarta (PBNU) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
- Dari semenjak didirikannya NU Hingga Akhir Tahun 2009 Jaringan organisasi NU meliputu: 33 Wilayah di Indonesia, 457 Cabang, 4.630 Majlis Wakil Cabang, 47.125 Ranting, dan PBNU Sudah Punya 14 Cabang Istimewa di Luar Negeri, Secara khusus PCINU (Pengurs Cabang Istimewa) nanti akan kita bahas, karena PCINU semakin berkembang di Luar negeri.
- NU Resmi berbadan hukum pertama kali, pada tanggal 6 Pebruari 1930 M, yang kemudian diperbaharui pada tahun 1989 M, berdasarkan keputusan Menteri Kehakiman RI No. C2-7028. HT.01.05.TH89.
- Setelah NU berdiri dan dapat legalitas resmi dari pemerintah Republik Indonesia, NU semakin bergerak dalam bidang sosial keagamaan, kemasyarakatan, pendidikan dan perekonomian dan hal tersebut dilakukan oleh NU sampai sekarang ini.
- Karena perpolitikan yang sangat kacau saat itu, maka NU terlibat di Organisasi MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia) yang merupakan federasi dari golongan dan partai Islam terbesar di Indonesia di awal kemerdekaan tahun 1945, rupanya memiliki friksi perpecahan di tubuhnya. Salah satunya adalah Nampak bahwa kepentingan golongan lebih diutamakan dibandingkan persatuan organisasi, terutama ketika menghadapi daya tarik posisi politik formal di alam negara. Akhirnya NU keluar dari Masyumi, karena NU tidak dapat untung sama sekali jika gabung sama Masyumi saat itu.
- Keputusan keluarnya NU dari MASYUMI dinyatakan dengan resmi pada kongres NU bulan Mei tahun 1952 di Kota Palembang.
- Terjadi keluarnya NU dari MASYUMI disebabkan beberapa sebab salah satunya adalah Pimpinan pusat Masyumi dinilai telah didominasi oleh kelompok Modernis.
- Setelah NU keluar dari Masyumi, NU sempat menyatakan diri sebagai Partai Politik yang saat itu konon cerita dipimpin langsung oleh KH. Wahab Hasbullah, bahkan beliau mengatakan kalau gak ada yang mau, maka saya yang akan mimpin sendiri untuk menjadi partai politik saat itu, karena Perpolitikan saat itu sangat kejam sekali.
- NU sudah belajar banyak tentang perpolitkan di Indonesia, baru ketika masa orde baru, Akhirnya NU kembali lagi menyatakan diri sebagai organisasi kemasyarakatan sampai sekarang ini, yang saat ini kita kenal dengan istilah NU kembali ke KHITTAH 1926.
- Khittah NU 1926 yang digulirkan lagi dalam Muktamar ke-27 NU tahun 1984 di Situbondo itu selama ini memang menjadi ganjalan buat para kiai yang ingin terjun membenahi dunia perpolitikan yang sudah sangat sarat dengan kepentingan sesaat dan sudah tidak mengindahkan prinsip moralitas dan idealisme, bahkan idiom agama digunakan untuk sebuah kepentingan meraih target kekuasaan. Tidak sedikit para kiai yang canggung atau mungkin setengah hati menggeluti dunia politik karena adanya kekhawatiran dengan keterlibatan secara intens di dunia politik, berarti telah melanggar Khittah NU.
- Padahal jika kita menggunakan pendekatan kesejarahan, atau latar sosio-historis munculnya "teks Khittah NU" pada tahun 1984 itu, kita akan segera tahu sesungguhnya teks Khittah NU itu bukan bermakna lari dari politik tetapi sebetulnya sejenis "siasat politik kiai untuk mendapatkan akses kekuasaan (kembali)". (lihat di website Nu online, tulisan Rois Syuriyah Jawa Timur KH.Miftachul Akhyar tentang Ktittah NU 1926: sebuah tafsir pemahaman).
- Setelah NU resmi menyatakan kembali memilih sebagai Organisasi Keagamaan, Kemasyarakatan, akhirnya NU memaksimalkan bergerak dibidang Sosial keagamaan, kemasyarakatan, pendidikan, perekonomian.
- Konsekwensi NU memilih kembali ke KHITTAH 1926, maka NU memilih jarak sosial yang netral dengan kekuatan politik dan pemerintah. NU menempatkan diri sebagai organisasi keagamaan yang mandiri dan independen. NU memiliki sikap politik ada di mana – mana tetapi tidak ke mana – mana. Artinya NU mempersilahkan warganya memilih dan menyalurkan aspirasi politiknya kepada parpol manapun, atau memilih jalur profesi apapun, yang penting mereka selalu sadar bahwa dirinya sebagai warga nahdliyin.
- Tapi saat ini tidak sedikit warga NU yang masuk partai politik. dan gak mau kembali lagi ngurusi NU, malah musuhi NU, meremehkan NU, bahkan mereka dijadikan pengurus partai tersebut. mereka masuk partai politik yang mengatakan dirinya partai Islam/partai dakwa, dan partai tersebut mendoktrin warga NU jadi kelompok mereka yang militan, yang mana militannya melebihi saat dia jadi Anggota NU. Contohnya ada di Sudan dan dibeberapa negara Timur tengah.
- Dalam hal tertentu NU bisa bersikap tawaquf atau mendukung kebijakan pemerintah, namun dalam hal lain NU bersikap kritis terhadap setiap kebijakan yang dianggap tidak sejalan dengan visi kebangsaan yang telah dirumuskan bersama.

5. NU (NAHDLATUL ULAMA) GO-INTERNASIONAL .
- Tidak heran kalau NU sampai Go-Internasioanl sebab Pemikiran NU sangat diterima di dunia Interasional, dan NU adalah ormas Islam yang berciri moderat maka dari itu NU sangat dibutuhkan oleh negara yang sedang menghadapi ancaman terorisme.
- NU sebagai cermin bangsa Indonesia khususnya umat Islam, sehingga untuk melihat dinamka Islam Nusantara bahkan Islam non Arab, NU yang sering dijadikan sebagai tolak ukur. Banyak Ulama Internasional yang selama ini belajar dari NU. Mereka mengikuti paham keagamaan yang dirumuskan oleh NU yang cukup berbeda dengan yang ada di Arab. Justru ini menarik untuk mereka pelajari bahkan mulai mereka terapkan di negara mereka masing-masing, yang selama ini para santri dan ulama kita yang belajar ke sana.
- Hal itu lebih tegas terlihat ketika para ulama di berbagai belahan dunia Timur tengah, baik di Sudan, Maroko, Libanon, Syria dan sebagainya yang ingin bergabung dengan NU, padahal mereka itu beragam aliran, ada Sunni dan ada yang Syi'i.
- NU dikenal di dunia Internasioal semenjak PBNU dipimpin "Gus Dur" (Presiden RI ke-4 yang juga Ketua Umum PBNU periode 1984-1999). Dan setelah itu diteruskan oleh Ketua Umum PBNU KH.A.Hasyim Muzadi dengan program ICIS (International Conference of Islamic scholars) yang mengenalkan Islam Rahmatan Lil 'Alamin, dalam Acara tersebut ICIS mengundang para Ulama, Ilmuwan dan Cendekiawan muslim seluruh dunia, yang diadakan tiga kali di Ibu kota Jakarta-Indonesia.
- Pada Muktamar NU ke-30 tahun 1999 di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri-Jawa Timur, muncul sebuah pemikiran mendirikan Cabang NU di Luar negeri yang diberi nama PCINU (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama).
- Saat musim haji tahun 2010 PCI-NU (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama) mengadakan acara "silaturrahmi Internasional ke-11 NU Luar negeri" di makkah, yang dihadiri oleh 14 Cabang Istimewa yang ada di luar negeri. Tetapi sekarang PBNU sudah punya 19 Cabang Istimewa di Luar Negeri baik di Timur tengah, Afrika, Asia dan Barat, sebagaimana berikut: (PCINU Amerika, PCINU Asutralia, PCINU Inggris, PCINU Yaman, PCINU Libanon, PCINU Syria, PCINU Mesir, PCINU Taiwan, PCINU Malaysia, PCINU Jepang, PCINU Pakistan, PCINU Libya, PCINU Mesir, PCINU Yordania, PCINU Rusia, PCINU Belanda, PCINU Jerman, PCINU Arab Saudi, PCINU Sudan).

6. PCI-NU SUDAN (PENGURUS CABANG ISTIMEWA NAHDLATUL ULAMA SUDAN). LEGALITAS, SEJARAH BERDIRINYA DAN MEMBUMIKAN NU DI SUDAN.
- NU Khartoum Sudan didirikan di Masjid agung Khartoum Sudan pada tanggal 6 April 2000 M/ 1 Muharrom 1420 H. dengan dikomandani oleh Bapak DR.H.Ahmad Sayuti Anshori Nasution, MA sebagai Rois Syuriah dan bapak H. Muhammad Sangid, MA sebagai Ketua Tanfidziah, periode Awal tahun 2000-2001.
- Pada tanggal 23 Januari 2002, bertempat di Wisma Duta Besar RI Khartoum Sudan, NU Sudan diresmikan menjadi PCI-NU SUDAN, yang mana saat itu Ketua Umum PBNU KH. Ahmad Hasyim Muzadi dan beberapa pengurus PBNU berkunjung ke Sudan dan meresmikan berdirinya PCI-NU SUDAN, dengan disaksikan langsung oleh Prof.Dr. KH. Said Agil Munawar, MA (Katib 'Aam PBNU yang juga menjabat sebagai Menteri Agama).
- Setelah NU Sudan diresmikan menjadi PCI-NU SUDAN, kemudian pada tanggal 23 September 2007, Alhamdulillah PCI-NU SUDAN mendapat pengakuan resmi dan terdaftar di bawah perlindungan Kementerian Irsyad dan Wakaf Sudan. Pada periode ini PCI-NU SUDAN dipimpin oleh Bapak H. Muhammad Amiruddin, MA sebagai Rois Syuriah dan Bapak H. Mirwan Akhmad Taufiq, BA sebagai ketua Tanfidziah.
- Berdirinya PCI-NU SUDAN tidak lepas dari kebutuhan untuk belajar berorganisasi, berdakwa dan bermasyarakat. Meskipun banyak tantangan dan rintangan, baik dari dalam dan dari luar, bahkan saat itu ada sebagian kelompok yang menginginkan agar NU tidak berdiri di Sudan, Tapi Alhamdulillah berkat rahmat dan pertolongan Allah SWT, PCI-NU SUDAN tetap eksis sampai sekarang.
- Dalam perjalanan sejarahnya, saat ini PCI-NU SUDAN telah masuk pada periode kesembilan.
- Kemudian tujuan didirikannya Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Khartoum Sudan tidak lepas dari tujuan yang ditetapkan oleh Muktamar NU ke-30 tahun 1999 di PP. lirboyo Kediri- Jawa Timur (Bab IV pasal 5 & 6). Namun secara spesifik PCINU SUDAN dibentuk dalam rangka mensukseskan program "Go-Internasional" yang diantara tujuannya bertujuan meningkatkan kualitas intelektual kader, mempersiapkan calon-calon ulama yang berwawasan luas, menjalin silaturrahmi " Ukhuwah Nahdliyah " (Ukhuwah Islamiyah, Wathoniyah, Basyariyah) dengan organisasi-organisasi Islam dan organisasi Internasional yang ada, meningkatkan kualitas hidup Nahdliyin khususnya, Masyarakat pada umumnya.
- Dan Secara garis besar tujuan PCINU SUDAN periode Tahun ini adalah merealisasikan visi dan misinya yang dalam hal ini mempunyai visi: "Mencetak kader ulama yang berkualitas Internasioanal". Dan merealisasikan misi: "Menjadikan NU sebagai Organisasi yang bermanfaat bagi seluruh alam (Rahmatan lil 'Alamin)".
- Adapun Visi dan Misi tersebut ditunjang dengan motto: " Memaksimalkan khidmah dan Membumikan NU di Sudan dengan semangat Intelektual Ulama".
- Alhamdulillah sudah terbukti PCI-SUDAN telah membumikan NU di negara Sudan ini, dengan adanya para MUSTASYAR PCI-NU SUDAN dari orang sudan yang jumlahnya tujuh orang, mereka dari berbagai bidang, ada yang dari Masyayikh Toriqoh, Ulama,Pengusaha, Dokter, Rektor dan Dekan yang ada di berbagai kampus di Sudan.
- Kantor/Wisma NU Sudan Semenjak NU didirikan sampai sekarang sangat bermanfaat sekali, terbukti dipakai kegiatan sosial keagamaan, kemasyarakatan, pengajian untuk WNI yang ada di sudan, dan juga untuk warga NU khususnya, baik dipakai kegiatan diskusi, Ngaji kitab, membaca Do'a-do'a, membaca buku maulid Nabi Muhammad SAW, Khatmil Qur'an.
- Dalam hal tertentu PCI-NU SUDAN bisa bersikap tawaquf atau mendukung kebijakan pemerintah dalam hal ini KBRI, namun dalam hal lain PCI-NU SUDAN bersikap kritis terhadap setiap kebijakan yang dianggap tidak sejalan dengan visi kebangsaan yang telah dirumuskan bersama.



7. PERANGKAT ORGANISASI PCI-NU SUDAN.
- Saat ini PCI-NU SUDAN mempunyai 3 Lembaga, 1 Lajnah dan 1 badan Otonom.
- 3 lembaga yang ada di PCI-NU SUDAN yaitu Lembaga Dakwa, Lembaga Kajian dan pengembangan sumber daya manusia dan Lembaga Perekonomian.
- 1 lajnah yang ada di PCI-NU SUDAN yaitu Lajnah Ta'lif Wa Nasyr.
- 1 Badan Otonom yang ada di PCI-NU SUDAN yaitu Muslimat NU.
- Mereka punya fungsi masing-masing dalam menjalankan Program PCI-NU SUDAN.

8. Beberapa keberhasilan PCI-NU SUDAN.
- Menjalin hubungan dengan Kementerian Irsyad dan Wakaf Sudan, akhirnya PC-NU SUDAN dapat LEGALITAS.
- Menghubungkan PBNU dengan Pemerintah Sudan, Terbukti dengan mengundang KH. Ahmad Hasyim Muzadi ( Ketua Umum PBNU) dalam acara " Simposium Menghadapi Problematika Dakwa Islam di Sudan " dalam acara pembukaan Simposium tersebut Ketua Umum PBNU disandingkan dengan Presiden Sudan dan juga diberi kesempatan untuk menyampaikan sambutan atas nama PBNU. Kehadiran Ketua Umu PBNU ke Sudan bersama Perusahaan Supreme Energy. Dalam kesempatan ini PBNU diberi salah satu Blok Minyak yang ada di Sudan.
- Aktif dalam kegiatan nasional (Sudan) dan Internasional yang telah diadakan oleh Majlis A'la Liddakwa Al-Islamiyah Sudan.
- Aktif dalam kegiatan yang diadakan oleh WAFIDIN.
- Mengusahakan beasiswa bagi warga NU di Universitas Al-Quran.
- Lembaga Persahabatan Indonesia – Sudan. Dalam hal ini PCI-NU SUDAN dipercaya untuk menjalankan dua proyek penting yang pertama : Pengajaran Bahasa Indonesia kepada penduduk Sudan, Yang kedua : Penerjemahan buku-buku Indonesia kedalam bahasa Arab, dari karya Syekh Syurkati (Muballigh Sudan sekaligus tokoh pendiri Jam'iyah Al-Irsyad di Indonesia).
- Menjalin hubungan dengan Dewan Zakat Sudan.
- Menjalin hubungan dengan Al-Majlis Al-Qoumiy li Ad-Dzikri Wa-Dzakirin, Dan Kegiatan NU dimuat dalam majalah AL-FAYD milik Al-Majlis Al-Qoumiy li Ad-Dzikri Wa-Dzakirin, yang disebarkan ke beberapa negara Arab.
- Menjalin hubungan dengan Bank Tadamon Sudan.
- Menjalin hubungan dengan Radio resmi milik pemerintah Sudan, dalam hal ini PCI-NU SUDAN berkesempatan memperkenalkan visi dan misinya sekaligus menampilkan kesenian REBANA dari tim JSQ (Jam'iyah Syifa'ul qulub) melalui siaran radio pemerintah Sudan.
- Menjalin hubungan dengan Masyarakat Sudan, Orang-orang asing yang ada di Sudan, Para Ulama, para Masyayikh Toriqoh dan Para Rektor yang ada di Universitas Sudan.
- Menjalin hubungan dengan Pengusaha Sudan DR. Al-Fatih Ali Hasanain yang mendapat Lencana dari Presiden Sudan, seorang tokoh Sufi yang masih produktif dalam menulis sekaligus mantan aktifis Persatuan Pelajar Islam di Eropa Timur.
- Menjalin hubungan dengan (DR. Hamd Umar hawy) Pakar politik sekaligus Dekan Fakultas Ilmu politik Universitas Juba – Khartoum – Sudan. Beliau punya buku yang berjudul : Corak Negara Islam antara Sekuler dan Teokrasi.
- Merintis peluang program beasiswa bagi para pelajar Indonesia yang berminat meneruskan belajar dengan sistem non formal dibeberapa pondok pesantren (Kholwa) di Sudan.
- Mengusulkan kepada pihak Al-Majlis Al-Qoumiy li Ad-Dzikri Wa-Dzakirin agar bekerja sama dengan PBNU untuk menyelenggarakan " Muktamar Toriqoh Internasional " dan usulan ini mendapat sambutan baik.
- Merintis Pengajian Untuk Masyrarakat Indonesia yang ada di Sudan yang saat ini kita kenal dengan pengajian AL-HIJRAH.
- Membentuk Lajnah Bahsul masail.
- Merawat Pengajian yang dikhususkan untuk Para Pekerja Profesional di Sudan yang saat ini kita kenal dengan pengajian RIYADUL MUHIBBIN.
- Melaksanakan diskusi Ilmiah dan kontemporer dwimingguan di Wisma PCI-NU SUDAN.
- Menerjemahkan sejarah singkat sekaligus proposal NU Sudan ke dalam Bahasa Arab dan Inggris.
- Membuat Buku Profil dalam tiga bahasa yaitu: Bahasa Indonesia, Arab dan Inggris.
- Membuat/Membentuk Panitia Haji dan Panitia Ihya' Ramadlan.

9. PENGURUS PCI-NU SUDAN DARI AWAL BERDIRINYA SAMPAI SEKARANG.
- Dr. H. Ahmad Sayuti Anshori Nasution dan H. Ahmad Sangid,MA(2000-2001)
- Dr. H. Syuhada' Sholeh dan H. Hafidz Muhammad amin, MA (2001-2002)
- H. Muhammad Shofwan, MA dan H. Lathoif Ghozali, MA (2002-2003)
- Dr. M. Badrus Salam, MA dan H. Muhammad Afifullah, MA (2003-2004)
- Dr. M. Badrus Salam, MA dan H.M. Iqbal Luthfi, BS (2004-2005)
- H. Muhammad Afifullah, MA dan H. Hilmy As-shidiqie (2005-2006)
- H. Muhammad Afifullah, MA dan H. Muhammad Shohib Rifa'i (2006-2007)
- H. Muhammad Amiruddin, MA dan H. Mirwan Akhmad Taufiq,BA (2007-2008)
- H. Muhammad Amiruddin, MA dan H. Abdul Wahab Naf'an, BA (2008-2010)
- H. Muhammad Shohib Rifa'i, MA dan H. Abdussalam, BS (2010-2011)

Pustaka :
(1) Hasil – hasil Muktamar NU ke-XXXII, Asrama Haji Makassar 22-27 Maret 2010. Diterbitkan Oleh Sekretariat Jendral PBNU.
(2) M. Natsir, Dakwah dan Pemikirannya. Thahir Luth. Gema Insani Press. 1999.
(3) Sejarah Indonesia Modern. M.C.Ricklefs. Serambi.2008.
(4) Akar Konflik Politik Islam di Indonesia. Dhurorudin Mashad. Pustaka Al Kautsar. 2008.
(5) Sekilas NU Cabang Istimewa Khartoum Sudan, Diterbitkan Oleh Sekretariat PCI-NU SUDAN tahun (2010-2011).
(6) Website resmi PBNU : www.nu.or.id.
(7) Buku sejarah NU yang diterbitkan oleh PBNU tahun 2008.
(8) www.freedom-institute.org/en/page.php?page=profil&detail=artikel&detail=dir&id=421

Kamis, 14 Januari 2016

Hari Gini Masih Pacaran? Ngga Banget Deh…!




Oleh Abdul Al-Hafizh


“Hari gini ngga punya pacar? payah banget sih lo…!” itulah kata yang diucapkan salah satu teman ana ketika tahu saya ngga punya pacar. Dalam hati saya cuma bilang, “Yang payah itu siapa? yang payah itu elo, masa ngelanggar aturan tuhan ko bangga! Sungguh aneh…!” akan tetapi berhubung itu teman udah lama temenan ama saya jadinya perkataan itu cuma saya pendam dalam hati.

Bagi sebagian orang seperti teman saya itu mungkin pacaran adalah suatu hal yang biasa, bahkan ada yang lebih ekstrim yang menganggap bahwa pacaran itu adalah suatu keharusan, dan hidup tanpa pacaran bagaikan sayur tanpa garam (kaya lagu aja ya…). Padahal kalau saja mereka tahu (mungkin ada juga yang sudah tahu, tapi pura-pura ngga tahu) bahwa pacaran itu ngga punya untung sama sekali bahkan membuat hidup menjadi bergelimang dosa, mungkin mereka akan berpikir ulang untuk berpacaran.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’ [17] : 32)

Itulah bunyi salah satu ayat dalam surat cintaNya untuk kita. Begitu sayangnya Allah Subhanahu Wata’ala terhadap kita, sehingga Allah memperingatkan kita untuk tidak mendekati zina. Begitu besarnya kerusakan dan kehancuran yang bisa dihasilkan oleh suatu perzinahan, sehingga mendekatinya pun kita dilarang oleh Allah.

Lantas apa hubunganya dengan pacaran?

Ya jelas ada hubungannya dong, gimana sih lo ini. Kan elo tahu gimana pacaran itu, yang pasti ngga lepas deh dari yang namanya dua-duaan, deket-deketan, pegangan tangan, mesra-mesraan, dan akhirnya kebablasan.

Elo Muslim-kan? pastinya elo percaya dong dengan yang namanya hadits Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam,

“Telah ditulis bagi setiap bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah (lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara qalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluanlah yang membenarkan (merealisasikan) hal itu atau mendustakannya”. (HR. Al-Bukhori [5889] dari Ibnu Abbas, dan Muslim [2657] dari Abu Hurairah)

Nah coba deh elo resapi itu hadits, pasti deh elo bakalan tahu bahwa pacaran itu udah amat sangat dekat dengan yang namanya zina. Kalo elo masih nganggap kalo pacaran ama zina itu jauh, lo coba deh untuk pacaran tapi ngga saling ngeliat, ngga pernah saling ngerayu (apalagi ngegombal ya…), terus ngga pernah pegangan, and ngga pernah dua-duaan…

Bisa ngga elo ngelakuin yg kayak gitu, kalo bisa gue akui elo emang hebat….

Terus kalo ngga pacaran gimana gue dapat jodohnya? apa lo ngga mikir tentang itu?

Buset dah, elo ngga percaya dengan Allah ya, coba deh lo baca Al-Qur’an…

“Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat [41] : 49)

“Maha Suci Tuhan yang Telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yaasiin [81] : 36)

Kalo elo Muslim, elo harus percaya kalo masalah jodoh itu udah ditentuin oleh Allah Subhanahu Wata’ala, jadinya ngga usah takut kalo ngga dapat jodoh, toh kalo emang ngga dapat jodoh di dunia, masih ada ko kesempatan tuk nemuin jodoh di akhirat, tapi dengan catatan elo harus menjadi orang yang baik biar dapat tiket untuk ke surga ya.

Terus nih kalo gue ngga pacaran, gimana gue bisa mengenal sifat ato kelakuan jodoh gue? Ntar yg ada ngga sesuai harapan lagi…!

Sekarang gue mau nanya ama elo, emangnya kalo elo pacaran elo bisa mengenal lebih dekat dengan orang pilihan elo? Kalo menurut gue sih ngga ngaruh sama sekali, soalnya sepengetahuan gue yang namanya pacaran itu lebih banyak jaga imej nya daripada jujurnya. Orang pacaran itu lebih memilih menjadi some body perect daripada jadi dirinya sendiri, jadi kalo elo ingin menjadikan pacaran sebagai ajang tuk saling mengenal, lo 100% salah besar bro…!

And kalo elo yakin ama janji Allah, seharusnya elo ngga perlu merisaukan tentang masalah itu. Coba deh elo baca ayat berikut…

“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS. An-Nur [24] : 26)

Nah sekarang elo tahu kan, kalo elo berharap mendapatkan yang baik maka perbaiki dulu deh diri lo…

Udah dulu ya pembahasannya, gue udah cape banget nih, insya Allah kapan-kapan kita sambung lagi ya…


To Ikhwan

Kalo elo emang ngaku sebagai laki-laki and lo suka ama cewe, langsung aja deh elo lamar tu orang ke ortunya, jangan elo jadikan cinta itu sebagai alasan untuk berpacaran, cowo yang lebih memilih berpacaran daripada menikah adalah cowo yang bermental kerupuk bin pecundang and pengecut, ingat itu…!


To Akhwat

Kalo elo emang akhwat sejati, janganlah elo suka mengumbar aurat ataupun juga mengundang kaum the gombalers untuk menggoda. Jangan lupa juga untuk menjaga diri baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya, karena biasanya para cowo punya beribu macam muslihat untuk menggoda. Selain itu yang terakhir jangan lupa baca note ku yang sebelumnya di “ProPic Facebookmu Memalingkan Wajahku” ya (promosi mode on)
http://www.4shared.com/embed/nDy-F_7g/03_Endless_Sacrifice.swf